Tony Q Rastafara
dan Musik Reggae diIndonesia

Reggae merupakan irama popular dari Negara Jamaika dengan menggunakan elemen folk & rock, ska, callypso dan mento disajikan melalui garis bass pada suatu hentakan antara dari pukulan drum. Selain iramanya yang khas, jenis musik ini tidaklah terlalu sulit untuk dibedakan dengan musik lainnya seperti rock ataupun musik pop. Dikarenakan kentalnya unsur tradisional yang melekat dalam tatanan musik tersebut, penikmat musik ini lebih mudah mengenali irama reggae dalam arti yang sesungguhnya.

Reggae adalah suatu jenis musik yang dalam perwujudannya merupakan suatu bentuk perlawanan atas penindasan. Musik reggae dapat menyentuh setiap lapisan masyarakat, layaknya musik country di Negara barat ataupun musik dangdut di Indonesia karena selama ini musik reggae masih dapat mempertahankan identitasnya, sebagai sebuah karya pembebasan dari orang-orang yang merasa tertindas, baik itu oleh pemerintah, hukum, keadilan, persamaan hak, dan yang paling essensial adalah pembebasan dari keterkekangan pada diri manusia sendiri dalam mencapai nilai kemanusiaan yang lebih bebas dan berani tetapi dengan penuh cinta dan kedamaian. Setidaknya dasar filosofi dari semangat musik reggae akan kebebasan, perdamaian, dan cinta tersebut seyogyanya akan dicoba untuk dapat dilestarikan oleh masyarakat di Indonesia secara menyeluruh

Musik ini pun mau tidak mau sudah sangat identik dengan sang legenda Bob Marley seorang musisi asal Jamaika yang telah berhasil memperkenalkan musik reggae pada dunia dengan pesan-pesan perdamaian,cinta,dan kebebasan yang ada pada setiap lagunya. Sosoknya yang kental dengan pejuang hak asasi manusia dari penjajahan membuat dunia tidak saja melihatnya sebagai musisi tetapi juga seorang peuang. Walaupun bukan sebagai pionir dalam aliran musik reggae tetapi keberhasilannya memadukan unsur musik lain dengan musik reggae lah yang membuat lagu-lagunya dapat diterima dan begitu digemari secara mendunia.

Salah satu tokoh aliran musik reggae di Indonesia yang secara tidak langsung telah memberikan banyak pengaruh terhadap musik reggae indonesia adalah Tony Q Rastafara. Setelah kurang lebih sepuluh tahun berjuang dengan idealismenya dalam memainkan musik ini. Eksistensinya pun semakin diakui dan penggemarnya pun semakin lama semakin banyak bahkan hingga penggemar fanatik. Hal ini terjadi karena Tony Q Rastafara sebagai seorang musisi Indonesia berhasil mengadaptasi esensi dan karakter dari musik asli Jamaika itu menjadi musik yang dapat diterima sebagai musik asli Indonesia. Ditambah dengan berbagai prestasinya, yang secara tidak langsung juga ikut mengharumkan prestasi musik Indonesia baik secara nasional maupun internasional.
(di ambil dari situs mas Tony-Q)

Read More...
Selasa, 15 Juli 2008

SEKILAS TENTANG TONY Q RASTAFARA


Pria asal kota Semarang Jawa Tengah, terlahir dengan nama Tony Waluyo Sukmoasih. Memulai karier bermusiknya sejak tahun 1989 dengan band Roots Rock Reggae. Biasa manggung dari kafe ke kafe atau acara pentas musik yang ada di Jakarta. Setelah bergabung dan membentuk banyak band Reggae seperti Exodus Band, Rastaman Band, hingga akhirnya pada tahun 1994 membentuk band yang cukup terkenal sebagai pengusung aliran musik Reggae di Indonesia pada masa itu yaitu Rastafara. Bersama Rastafara sempat merilis dua album “Rambut Gimbal” pada tahun 1996 dan “Gue Falling In Love” pada tahun 1997.

Hampir semua lagu-lagu di album tersebut diciptakan sendiri oleh Tony Q, lirik lagunya kebanyakan bercerita tentang tema sosial, kemanusiaan, cinta dan tema kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satu lagunya yang cukup populer pada masa itu adalah ”Rambut Gimbal” sebuah istilah untuk style rambut Dreadlock dalam bahasa asing yang kemudian secara tidak langsung dijadikan istilah dalam bahasa Indonesia dan menjadi populer dikarenakannya lagu tersebut.

Perbedaan Rastafara pada saat itu dengan band Reggae lainnya adalah..........


karena mereka berhasil memasukan dan memadukan unsur-unsur musik tradisional dengan gaya khas Indonesia kedalam musiknya sehingga terbentuklah musik Reggae ala Indonesia yang bisa terlepas dari bayang-bayang musik Reggae dunia seperti Bob Marley, UB40 atau Jimmy Cliff. Penggunaan alat-alat musik tradisional seperti Kendang sunda atau Gamelan Jawa juga ikut menambah warna musik Indonesia didalam lagu-lagu Rastafara. Dan pada aransemen musiknya sepintas juga terlihat unsur-unsur musik Melayu atau bahkan musik khas daerah Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Pria asal kota Semarang Jawa Tengah, terlahir dengan nama Tony Waluyo Sukmoasih. Memulai karier bermusiknya sejak tahun 1989 dengan band Roots Rock Reggae. Biasa manggung dari kafe ke kafe atau acara pentas musik yang ada di Jakarta. Setelah bergabung dan membentuk banyak band Reggae seperti Exodus Band, Rastaman Band, hingga akhirnya pada tahun 1994 membentuk band yang cukup terkenal sebagai pengusung aliran musik Reggae di Indonesia pada masa itu yaitu Rastafara. Bersama Rastafara sempat merilis dua album “Rambut Gimbal” pada tahun 1996 dan “Gue Falling In Love” pada tahun 1997.

Hampir semua lagu-lagu di album tersebut diciptakan sendiri oleh Tony Q, lirik lagunya kebanyakan bercerita tentang tema sosial, kemanusiaan, cinta dan tema kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satu lagunya yang cukup populer pada masa itu adalah ”Rambut Gimbal” sebuah istilah untuk style rambut Dreadlock dalam bahasa asing yang kemudian secara tidak langsung dijadikan istilah dalam bahasa Indonesia dan menjadi populer dikarenakannya lagu tersebut.

Perbedaan Rastafara pada saat itu dengan band Reggae lainnya adalah karena mereka berhasil memasukan dan memadukan unsur-unsur musik tradisional dengan gaya khas Indonesia kedalam musiknya sehingga terbentuklah musik Reggae ala Indonesia yang bisa terlepas dari bayang-bayang musik Reggae dunia seperti Bob Marley, UB40 atau Jimmy Cliff. Penggunaan alat-alat musik tradisional seperti Kendang sunda atau Gamelan Jawa juga ikut menambah warna musik Indonesia didalam lagu-lagu Rastafara. Dan pada aransemen musiknya sepintas juga terlihat unsur-unsur musik Melayu atau bahkan musik khas daerah Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Pada tahun 1997 Rastafara memutuskan untuk vakum dalam bermusik, hingga akhirnya Tony Q memutuskan untuk membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara. Maka pada tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band additional player. Tetapi kemudian Tony Q memutuskan untuk bersolo karier dengan tetap membawa nama bandnya Tony Q Rastafara, yang berhasil merilis album pada tahun 2000 yaitu ”Damai Dengan Cinta”. Pada album ketiganya ini lah Tony Q mulai menapaki puncak kariernya dalam musik reggae di Indonesia, karena album inilah seorang Professor di bidang musik dari Canada memberikannya referensi untuk mengirimkan demo untuk ikut dalam ajang Bob Marley Festival di Amerika. Pihak penyelenggara Festival tersebut menyukai lagu-lagu yang ada di album tersebut dan kemudian mengundang Tony Q untuk tampil diacara tersebut pada tahun 2002, tapi sayang sekali Tony Q beserta rombongannya tidak mendapat izin visa dari Kedutaan Amerika dikarenakan alasan keamanan terkait dengan Tragedi WTC 11 September di Amerika yang terjadi berdekatan dengan rencana keberangkatan Tony Q ke Amerika.

Pada tahun 2003 albumnya yang keempat berjudul ”Kronologi” di rilis, lagu pada album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu dari album-album sebelumnya dan juga beberapa lagu yang belum sempat dirilis. Kemudian pada tahun 2005 Tony Q kembali merilis albumnya yang terbaru bertitle ”Salam Damai” dengan membawa misi dan visi yang ingin disampaikan tentang perdamaian, dalam album ini Tony Q mencoba menggabungkan musik Reggae dengan unsur musik Orchestra tetapi tidak lupa memasukan unsur tradisional bahkan pada album ini terdapat juga lagu-lagu dengan lirik bahasa Sunda dan Jawa yang semakin menambahPada tahun 1997 Rastafara memutuskan untuk vakum dalam bermusik, hingga akhirnya Tony Q memutuskan untuk membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara. Maka pada tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band additional player. Tetapi kemudian Tony Q memutuskan untuk bersolo karier dengan tetap membawa nama bandnya Tony Q Rastafara, yang berhasil merilis album pada tahun 2000 yaitu ”Damai Dengan Cinta”. Pada album ketiganya ini lah Tony Q mulai menapaki puncak kariernya dalam musik reggae di Indonesia, karena album inilah seorang Professor di bidang musik dari Canada memberikannya referensi untuk mengirimkan demo untuk ikut dalam ajang Bob Marley Festival di Amerika. Pihak penyelenggara Festival tersebut menyukai lagu-lagu yang ada di album tersebut dan kemudian mengundang Tony Q untuk tampil diacara tersebut pada tahun 2002, tapi sayang sekali Tony Q beserta rombongannya tidak mendapat izin visa dari Kedutaan Amerika dikarenakan alasan keamanan terkait dengan Tragedi WTC 11 September di Amerika yang terjadi berdekatan dengan rencana keberangkatan Tony Q ke Amerika.

Pada tahun 2003 albumnya yang keempat berjudul ”Kronologi” di rilis, lagu pada album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu dari album-album sebelumnya dan juga beberapa lagu yang belum sempat dirilis. Kemudian pada tahun 2005 Tony Q kembali merilis albumnya yang terbaru bertitle ”Salam Damai” dengan membawa misi dan visi yang ingin disampaikan tentang perdamaian, dalam album ini Tony Q mencoba menggabungkan musik Reggae dengan unsur musik Orchestra tetapi tidak lupa memasukan unsur tradisional bahkan pada album ini terdapat juga lagu-lagu dengan lirik bahasa Sunda dan Jawa yang semakin menambahPada tahun 1997 Rastafara memutuskan untuk vakum dalam bermusik, hingga akhirnya Tony Q memutuskan untuk membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara. Maka pada tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band additional player. Tetapi kemudian Tony Q memutuskan untuk bersolo karier dengan tetap membawa nama bandnya Tony Q Rastafara, yang berhasil merilis album pada tahun 2000 yaitu ”Damai Dengan Cinta”. Pada album ketiganya ini lah Tony Q mulai menapaki puncak kariernya dalam musik reggae di Indonesia, karena album inilah seorang Professor di bidang musik dari Canada memberikannya referensi untuk mengirimkan demo untuk ikut dalam ajang Bob Marley Festival di Amerika. Pihak penyelenggara Festival tersebut menyukai lagu-lagu yang ada di album tersebut dan kemudian mengundang Tony Q untuk tampil diacara tersebut pada tahun 2002, tapi sayang sekali Tony Q beserta rombongannya tidak mendapat izin visa dari Kedutaan Amerika dikarenakan alasan keamanan terkait dengan Tragedi WTC 11 September di Amerika yang terjadi berdekatan dengan rencana keberangkatan Tony Q ke Amerika.

Pada tahun 2003 albumnya yang keempat berjudul ”Kronologi” di rilis, lagu pada album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu dari album-album sebelumnya dan juga beberapa lagu yang belum sempat dirilis. Kemudian pada tahun 2005 Tony Q kembali merilis albumnya yang terbaru bertitle ”Salam Damai” dengan membawa misi dan visi yang ingin disampaikan tentang perdamaian, dalam album ini Tony Q mencoba menggabungkan musik Reggae dengan unsur musik Orchestra tetapi tidak lupa memasukan unsur tradisional bahkan pada album ini terdapat juga lagu-lagu dengan lirik bahasa Sunda dan Jawa yang semakin menambahPada tahun 1997 Rastafara memutuskan untuk vakum dalam bermusik, hingga akhirnya Tony Q memutuskan untuk membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara. Maka pada tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band additional player. Tetapi kemudian Tony Q memutuskan untuk bersolo karier dengan tetap membawa nama bandnya Tony Q Rastafara, yang berhasil merilis album pada tahun 2000 yaitu ”Damai Dengan Cinta”. Pada album ketiganya ini lah Tony Q mulai menapaki puncak kariernya dalam musik reggae di Indonesia, karena album inilah seorang Professor di bidang musik dari Canada memberikannya referensi untuk mengirimkan demo untuk ikut dalam ajang Bob Marley Festival di Amerika. Pihak penyelenggara Festival tersebut menyukai lagu-lagu yang ada di album tersebut dan kemudian mengundang Tony Q untuk tampil diacara tersebut pada tahun 2002, tapi sayang sekali Tony Q beserta rombongannya tidak mendapat izin visa dari Kedutaan Amerika dikarenakan alasan keamanan terkait dengan Tragedi WTC 11 September di Amerika yang terjadi berdekatan dengan rencana keberangkatan Tony Q ke Amerika.

Pada tahun 2003 albumnya yang keempat berjudul ”Kronologi” di rilis, lagu pada album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu dari album-album sebelumnya dan juga beberapa lagu yang belum sempat dirilis. Kemudian pada tahun 2005 Tony Q kembali merilis albumnya yang terbaru bertitle ”Salam Damai” dengan membawa misi dan visi yang ingin disampaikan tentang perdamaian, dalam album ini Tony Q mencoba menggabungkan musik Reggae dengan unsur musik Orchestra tetapi tidak lupa memasukan unsur tradisional bahkan pada album ini terdapat juga lagu-lagu dengan lirik bahasa Sunda dan Jawa yang semakin menambahkental unsur tradisional Indonesia dalam musik Reggae.

Prestasi terbaru yang diraih oleh Tony Q di penghujung tahun 2005 adalah masuknya salah satu lagu dari album ketiganya ”Damai Dengan Cinta” yaitu ”Pat Gulipat” ke dalam Album kompilasi musik dunia Putumayo World Music dengan title ”Reggae Playground” yang rencananya akan dirilis secara Internasional pada bulan Februari 2006. Sebagai satu-satunya wakil dari benua Asia hal ini juga tidak saja mengaharumkan nama Tony Q sendiri tetapi juga nama Indonesia di mata dunia dan khususnya Musik Reggae ala Indonesia juga dapat lebih dikenal secara Internasional.

Read More...